jump to navigation

Surat dari Pasien Therapy Imun (1) 23 February, 2009

Posted by jaringmalam in Uncategorized.
trackback

dari APSH (perempuan)

Seperti perempuan biasanya, niat untuk mengejar karier aku lalui disebuah perusahaan besar nasional, sudah 3 tahun aku bekerja sebagai tenaga staff, akhirnya tahun 2006 aku dipromosikan untuk naik jabatan, gelar D3 menjadi penghambat untuk aku dapat berkarier lebih tinggi lagi, dengan usiaku yang pada saat itu baru 24 tahun membuatku berniat melanjutkan kuliah kejenjang S1, target saya 1 tahun gelar sudah kudapatkan, setiap hari aku kuliah sampai malam hari, dihari sabtu dan minggupun aku kuliah, aktifitas dikantor yang semakin padat, membuatku menjadi tertantang setiap harinya.

Awalnya dokter memvonisku mengalami gangguan pencernaan, selama 1 minggu aku dirawat, dari konsultasi dan pertanyaan yang aku ajukan pada dokter, sebenarnya aku sudah harus tau bahwa pada saat itu aku sudah terinfeksi AIDS, tapi apa boleh buat pada saat itu aku mengabaikannya, karena sungguh aku tidak berfikir bahwa aku terinfeksi.

Demam yang sangat tinggi dan keringat yang mengucur bersamaan dengan nafas yang tersengal-sengal, pada saat itu awal bulan desember (1 hari setelah hari Aids dunia), tiba-tiba rasa lemas menyerangku dimeja kerja, teman-teman dikantor pada saat itu membawaku ke rumah sakit.

Hari Pertama

AC Kamar rumah sakit terasa dingin, jaket yang aku kenakan tdak mampu menahan rasa dingin itu, selimut rumah sakit juga tidak berdampak, sesak nafas, makan yang disediakan rumah sakit tidak mampu mengundang selera. aku semakin kurus.

Hari Kedua

Ditemani oleh kekasihku saat ini yang sabar menemaniku, kondisiku semakin menurun.

Hari Ketiga

Sulit tuk’ bangkit dari tempat tidur, rasa sakit dan sesak nafas begitu mulai menggila.

Hari Keempat

Kondisiku semakin menurun, kali ini aku sudah tidak sanggup tuk’ kekamar mandi, walau hanya tuk’ buang air kecil, kali ini aku dibantu dengan oksigen tuk’ bernafas

Hari Kelima dan keenam

Kamar yang harusnya berisi 5 orang kali ini tinggal aku sendiri, teman satu-satunya yang sudah empat hari ini menemaniku telah pulang karena sudah sembuh (Hanya sakit maag), kondisiku lebih payah dari hari sebelumnya, pada malam hari aku sulit tuk’ tidur, keringat mengucur deras, tetapi AC Kamar aku matikan karena aku tidak sanggup dengan dinginnya. aku dapat terlelap tidur ketika jam sudah menunjukan pukul 03 pagi, aku hanya ditemani oleh kekasihku.

Hari Ketujuh

Bertepatan dengan hari raya idul Adha, malam itu aku ditemani kakaku (perempuan), niat tuk’ membeli hewan qurban yang sudah aku jadikan rutinitas 2 tahun belakangan ini terhalang (orang tuaku berfikir untuk menyimpan uangnya untuk tambahan berobatku), pada pagi hari jam 10 pagi aku dipindahkan ke kamar yang kali ini dihuni oleh pasien lainnya (berjumlah 4 Orang), satu tempat tidur kosong, dokterku datang pagi itu untuk memberitahuku, bahwa darahku akan diambil untuk diperiksa HIV/AIDS.

Hari Kedelapan  

Nafas yang tersengal-sengal membuatku sulit tuk’ tertidur, obat paru yang diberikan padaku mempunyai efek mual yang menggila, ayahku setiap hari mengomel padaku karena aku tidak ingin makan, sebenarnya bukan aku tidak ingin memakannya, tetapi obat paru yang membuatku mual yang menghalanginya (aku meminum pada saat pagi sebelum sarapan).

Hari Kesembilan

Seperti biasanya dokter datang pada pagi itu dengan memberikan informasi padaku bahwa aku POSITIF, saat itu ketahanan tubuhku hanya 13. (hanya kekasihku yang tahu)

Hari Kesepuluh

Mulai hari itu selain meminum obat paru aku juga akrab denga ARV, berat badanku semakin menyusut menjadi 39 kg saja. semangat yang diberikan oleh kakaku dan kekasihku membuatku termotivasi untuk dapat membuktikan bahwa penyakit ini bukan akhir, racauan-racauan yang aneh semakin tidak terkontrol keluar dari mulutku, rasa waktu semakin dekat membuatku menjad tidak rasional.

(hanya kekasih dan kakaku yang tahu)

Hari Kesebelas

Bermain kucing-kucingan ketika meminum obat dengan orang tuaku yang masih belum tahu kondisiku, rasa sedih yang luar biasa ketika melihat orang yang aku cintai kecewa dengan kondisiku saat ini membuat kesedihanku menjadi menggila, tak’ sanggup menahan airmata yang terus menetes dari ketika awal dokter menyatakan aku POSITIF, hingga aku tidak mampu lagi menutupi kesedihan dari wajahku. 

(hanya kekasih dan kakaku yang tahu)

Hari kedua belas

Teman-temanku yang dari hari pertama datang membesukku kali ini semakin banyak saja, kondisi ini sekaligus membuatku berusaha bangkit dari keterpurukan, aku tidak sendiri banyak orang yang mengharap aku kuat.

(aku tidak tahu kalau orang tuaku sudah tahu, aku berfikir hanya kakaku dan kekasihku yang tahu)

Hari Ketiga belas

Aku sudah mulai makan walau hanya sedikit, infus yang menemaniku dari hari pertama masih tetap setia.(infus sudah bolak balik:tangan kanan dan tangan kiri dan kanan lagi), pada pagi hari kekasihku menjemurku untuk mendapatkan hawa segar (aku naik kursi roda), bagaimana dengan biayanya? bohong bila aku tidak memikirkannya, asuransi perusahaan tentu tidak akan mau mengcover klaim penyakitku ini, dengan meminta kebijaksanaan dari dokter untuk tidak menginformasikan penyakitku pada siapapun (perusahaan maupun asuransi).

Hari Keempat belas

Hari ini aku mendapat kabar gembira dari dokterku yang baru (menanganiku ketika aku positif/dokter spesial HIV/AIDS), bahwa aku boleh pulang, saat itu berat badanku sudah 41 kg, bagaimana dengan administrasinya, aku boleh pulang bila kakakku mau menandatangani surat keterangan yang menyatakan bahwa boleh menginformasikan kondisiku kepihak penanggung(asuransi)

Hari Kelima Belas

Hari itu rasa ingin pulang semakin kencang, sampai air mata ini menetes, aku muak dengan suster yang memperlakukan aku layaknya barang najis, aku muak dengan sekitarku yang aku merasa menghakimiku, aku mau pulang.

Permasalahan administrasi menghambatku untuk pulang, barang yang sudah aku kemas dari pagi nampaknya harus bersabar, jam sudah menunjukan pukul 4 sore, tapi kepastianku pulang belum juga tampak, kekasihku yang baik hati menemui dokterku untuk dapat mengizinkan aku pulang, mengenai administrasi akan diurus setelah aku pulang, dengan menandatangani surat pernyataan bertanggung jawab atas biayaku.

malam itu setelah magrib diiringi guyuran hujan akhirnya aku pulang.

Hari-hari selanjutnya

Diminggu pertama setelah obat-obatan dari rumah sakit habis (begitu juga dengan ARV), kekasihku pun mencari ARV sampai dengan mengantri ke rumah sakit dharmais, saat itu ARV habis dirumah sakit manapun, kecuali rumah sakit dhamais.

ketika tahu efek samping ARV yang begitu dahsyat maka aku menghentikan mengkonsumsi obat itu, kali ini aku beralih ke therapy urine. saat ini sudah hampir 2 bulan aku tidak mengkonsumsi ARV, dari konsultasi pertama dengan dokterku, ketahanan tubuhku sudah cukup bagus, dan pada konsultasi kedua ketahanan tubuhku sudah mencapai 325, berat badanku sudah mencapai 49 kg, akupun sudah bisa melakukan hobiku belanja, tentu aku semakin lebih baik dalam beribadah.

Untuk teman-temanku, tetap semangat, aku hanyalah korban dari masa lalu yang kelam dan bodoh, dengan belajar untuk lebih baik dan lebih bijak menatap hidup, maka keiklasan dan ketenangan dapatku rasakan. karena sesungguhnya hidup adalah sebuah pengabdian kepada Tuhan.

Terimakasih : mamah dan papah yang merawatku dengan baik dan sabar, kakaku tersayang atas dukungannya secara material maupun imaterial, dan kekasihku tersayang yang telah ditiitipkan Allah untukku, dia yang terbaik..

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: